BMKG: Gelombang Tinggi di Selatan Padar hingga Sekitar 2,7 Meter
BMKG pada Juli 2025 mengingatkan nakhoda, nelayan, dan operator wisata agar mewaspadai gelombang tinggi hingga sekitar 2,7 meter di perairan selatan Padar dan kawasan selatan Taman Nasional Komodo.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan nakhoda, nelayan, dan pelaku wisata bahari agar mewaspadai gelombang tinggi di perairan selatan Pulau Padar dan kawasan selatan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Dalam keterangan yang dimuat Suara Surabaya pada 8 Juli 2025, Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Seran, menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan BMKG Maritim Tenau untuk periode 9–12 Juli 2025, tinggi gelombang signifikan di perairan selatan Padar dapat mencapai sekitar 2,2–2,7 meter, kategori tinggi bagi kapal kecil dan kapal dengan geladak terbuka.
Maria Seran menyebut wilayah Manggarai Barat, khususnya perairan Labuan Bajo dan bagian selatan Taman Nasional Komodo, sedang mengalami peningkatan risiko cuaca ekstrem akibat menguatnya monsun Australia, tingginya gelombang signifikan, serta adanya partikel halus abu vulkanik pascaerupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih melayang di udara dekat permukaan.
Gelombang tinggi dan angin tenggara
Menurut Maria Seran, perairan selatan Padar merupakan zona semi terbuka yang rentan terhadap gelombang tinggi dan angin kencang, sehingga kondisi tersebut berisiko bagi kapal berukuran kecil dan kapal dengan geladak terbuka.
Suara Surabaya mengutip penjelasan BMKG bahwa penguatan monsun Australia dan dominasi angin permukaan dari arah tenggara menjadi faktor yang meningkatkan tinggi gelombang di wilayah selatan Padar dan sekitarnya.
BMKG Maritim Tenau dalam prakiraan tersebut juga menekankan perlunya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang cepat di laut, termasuk peningkatan kecepatan angin dan gelombang akibat pertumbuhan awan konvektif.
Abu vulkanik dan jarak pandang
Dalam laporan yang sama, Maria Seran menjelaskan partikel halus abu vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada di udara dekat permukaan, sehingga berpotensi memengaruhi jarak pandang dan kenyamanan pernapasan awak kapal serta wisatawan.
Abu vulkanik juga dapat mengganggu sistem penyaringan dan mesin kapal, sehingga operator diminta memperhatikan kondisi udara, terutama pada pagi dan malam hari ketika jarak pandang bisa menurun.
Imbauan keselamatan pelayaran dan wisata bahari
BMKG, melalui pernyataan Maria Seran yang dikutip Suara Surabaya, mengimbau pelaku pelayaran dan wisata bahari di Manggarai Barat untuk menjadikan informasi resmi BMKG sebagai acuan utama dalam perencanaan perjalanan laut.
BMKG menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan informasi bersama Syahbandar dan pemangku kepentingan lain untuk mendukung keselamatan pelayaran dan wisata bahari di wilayah Manggarai Barat.
Wisatawan diminta meminta penjelasan dari operator kapal mengenai prakiraan cuaca maritim terbaru, kondisi rute yang akan dilalui, serta dasar pengambilan keputusan keberangkatan sebelum berlayar menuju kawasan Taman Nasional Komodo.
Pembaruan informasi dan rencana pelayaran
Prakiraan BMKG bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi atmosfer dan laut. Oleh karena itu, rencana pelayaran perlu ditinjau ulang ketika prakiraan menunjukkan gelombang tinggi, angin menguat, atau awan konvektif terbentuk di sepanjang rute.
Kapal kecil dan kapal dengan geladak terbuka menjadi kelompok yang paling perlu berhati-hati karena lebih rentan terhadap guncangan gelombang dan terpaan angin.
Jika kondisi memburuk setelah kapal berangkat, nakhoda diimbau mengutamakan keselamatan penumpang dan awak, mengikuti instruksi otoritas pelabuhan dan Syahbandar, serta tidak memaksakan perjalanan menuju wilayah yang diprakirakan memiliki gelombang lebih tinggi.
Konteks kewaspadaan di perairan Komodo
Peringatan pada 8 Juli 2025 muncul pada saat wilayah perairan Labuan Bajo dan bagian selatan Taman Nasional Komodo berada dalam fase peningkatan risiko cuaca ekstrem yang dipengaruhi pola musiman monsun Australia dan kondisi laut di selatan Nusa Tenggara.
Dalam konteks itu, BMKG menekankan pentingnya sinkronisasi informasi antara nakhoda, operator wisata, dan otoritas pelabuhan untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut serta mendukung keselamatan wisata bahari di sekitar Labuan Bajo.
Sumber
Berita berikutnya
Wae Lolos Catat 5.765 Kunjungan Wisatawan hingga Juni 2025
Pokdarwis Cunca Plias mencatat 5.765 kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Wae Lolos pada Januari–Juni 2025, terdiri atas 3.200 wisatawan mancanegara dan…
Baca juga




