BBKSDA NTT Tutup Wisata Gunung Anak Ranakah, Radius 1 Km Dibatasi
BBKSDA NTT menutup sementara wisata alam dan pendakian Gunung Anak Ranakah di TWA Ruteng, Manggarai, setelah status waspada dan aktivitas kegempaan meningkat. Radius 1 kilometer dari pusat aktivitas ikut dibatasi.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur menutup sementara kunjungan wisata alam dan pendakian di Gunung Anak Ranakah, kawasan Taman Wisata Alam Ruteng, Kabupaten Manggarai. Pengunjung, wisatawan, pendaki, dan warga juga dilarang memasuki radius 1 kilometer dari pusat aktivitas gunung itu.
Penutupan tersebut diumumkan pada awal September 2026 setelah status Gunung Anak Ranakah dinaikkan menjadi Level II atau Waspada. Menurut laporan media yang mengutip pengumuman otoritas konservasi dan keterangan petugas pemantau gunung, kenaikan status berlaku sejak 1 September 2026 pukul 23.00 Wita.
Peningkatan status itu berkaitan dengan aktivitas kegempaan yang terpantau di gunung api tersebut. Media lokal melaporkan, dalam pemantauan 1–2 September 2026, tercatat gempa vulkanik dalam, gempa tektonik lokal, gempa tektonik jauh, dan gempa terasa yang menjadi dasar rekomendasi pembatasan aktivitas di sekitar gunung.
Larangan radius 1 kilometer
BBKSDA NTT menyatakan pembatasan dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan pengunjung dan masyarakat di kawasan konservasi. Larangan itu berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dan akan dievaluasi mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Ranakah serta hasil penilaian keamanan kawasan.
Rekomendasi teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Imbauan serupa disampaikan kepada wisatawan dan pendaki agar tidak memasuki zona rawan tersebut.
Dasar pemantauan
Sejumlah laporan menyebut peningkatan aktivitas Gunung Anak Ranakah terjadi setelah gempa Flores bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Setelah itu, aktivitas kegempaan di sekitar gunung meningkat dan memicu penetapan status waspada serta pembatasan kunjungan.
Kepala BBKSDA NTT Adhi Nurul Hadi menyebut penutupan itu ditempuh demi keselamatan masyarakat, pengunjung, dan petugas di kawasan TWA Ruteng. Informasi perkembangan status gunung dan rekomendasi teknis pemantauan disampaikan melalui kanal resmi instansi terkait.
Hingga awal September 2026, pembukaan kembali wisata alam dan pendakian belum diumumkan. Keputusan berikutnya akan mengikuti evaluasi aktivitas gunung dan keamanan kawasan konservasi.
Sumber
Berita berikutnya

Dari Bandara Komodo ke Pelabuhan Labuan Bajo: Ojek, Taksi, atau Sewa Mobil?
Bandara Komodo berjarak sekitar 2–5 kilometer dari pelabuhan wisata Labuan Bajo dan dapat ditempuh 8–20 menit dengan kendaraan. Ojek, taksi bandara, m…
Baca juga


