Sebelum Berlayar ke Komodo, Periksa 4 Hal Ini
Rangkaian insiden kapal wisata di perairan Taman Nasional Komodo, termasuk tenggelamnya KLM Tiana pada 2022 dan 2023, menunjukkan pentingnya memeriksa status pelayaran, cuaca, kondisi kapal, dan akses medis sebelum berangkat dari Labuan…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 5 menit baca
Labuan Bajo — Wisatawan yang hendak berlayar menuju Pulau Komodo dan Pulau Padar perlu memeriksa sedikitnya empat hal sebelum meninggalkan pelabuhan: status pelayaran, prakiraan gelombang, kondisi kapal, serta akses layanan medis. Rangkaian insiden kapal wisata, termasuk tenggelamnya KLM Tiana di perairan Taman Nasional Komodo pada 28 Juni 2022 dan 21 Januari 2023, menunjukkan pentingnya persiapan keselamatan sebelum berangkat.
Menurut laporan sejumlah media, KLM Tiana pertama kali tenggelam di perairan Pulau Kambing, Labuan Bajo, pada 28 Juni 2022 saat berlayar dari Pelabuhan ASDP Labuan Bajo menuju Pulau Padar. Dalam kejadian itu, dua wisatawan meninggal dan seorang korban luka berat dievakuasi ke rumah sakit di Labuan Bajo.
Insiden lain yang melibatkan kapal KLM Tiana terjadi kembali pada 21 Januari 2023 di kawasan Taman Nasional Komodo. Kapal yang mengangkut 13 turis dan empat awak mengalami kecelakaan, menyebabkan dua wisatawan terluka dan satu di antaranya harus menjalani operasi di rumah sakit.
1. Pastikan status pelayaran kepada otoritas
Sebelum berangkat, wisatawan sebaiknya meminta penjelasan terbaru kepada operator mengenai apakah rute menuju lokasi tujuan tetap dibuka, ditunda, atau dibatasi. Konfirmasi juga perlu mencakup titik keberangkatan, jadwal kembali, serta perubahan rute apabila kondisi laut memburuk.
Keputusan resmi mengenai buka-tutup pelayaran ditetapkan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo bersama instansi terkait. Pada 13–15 September 2026, misalnya, KSOP menutup sementara pelayaran kapal wisata menuju Pulau Komodo dan Pulau Padar karena prakiraan gelombang hingga sekitar 1,9 meter disertai angin kencang, sementara pelayaran ke Pulau Rinca tetap diizinkan.
Wisatawan perlu membedakan informasi dari operator dengan keputusan otoritas pelabuhan atau pengelola kawasan. Apabila terdapat perbedaan informasi, keputusan resmi KSOP dan pengelola Taman Nasional Komodo perlu dijadikan rujukan sebelum perjalanan dilanjutkan.
2. Baca prakiraan gelombang, bukan hanya cuaca darat
BMKG menayangkan prakiraan cuaca maritim untuk perairan Taman Nasional Komodo yang memuat informasi tinggi gelombang, arah dan kecepatan angin, serta arus laut untuk periode waktu tertentu. Dalam sejumlah periode, tinggi gelombang di perairan ini dapat dikategorikan sedang, dengan angin yang pada waktu tertentu mencapai kecepatan belasan hingga puluhan knot.
Prakiraan BMKG selalu memiliki periode berlaku yang terbatas, sehingga data lama tidak dapat dipakai untuk memperkirakan kondisi laut pada hari keberangkatan yang baru. Wisatawan perlu membuka pembaruan terbaru BMKG untuk wilayah perairan yang akan dilalui, kemudian menanyakan kepada operator apakah kapal dan rute yang dipilih sesuai dengan kondisi tersebut.
Angin, hembusan, tinggi gelombang, dan arus perlu diperhatikan secara bersamaan. Pada beberapa prakiraan, BMKG juga mencatat arus menuju barat daya atau selatan dengan kecepatan tertentu yang dapat memengaruhi stabilitas kapal dan kenyamanan pelayaran.
Data yang perlu dicatat sebelum berangkat:
- Periode berlaku prakiraan BMKG dan waktu pembaruan terakhir.
- Tinggi gelombang, arah angin, kecepatan angin, dan kecepatan hembusan.
- Arahan atau peringatan gelombang dari BMKG dan otoritas setempat.
3. Tanyakan kondisi dan perlengkapan kapal
Wisatawan perlu memastikan nama kapal, kapasitas penumpang, jumlah penumpang yang terdaftar, serta perlengkapan keselamatan yang tersedia. Pemeriksaan praktis juga dapat mencakup keberadaan jaket pelampung untuk seluruh penumpang, akses keluar darurat, alat komunikasi, dan prosedur apabila kapal harus berhenti atau dievakuasi.
Dalam kasus KLM Tiana, media memberitakan bahwa kapal ini sempat berstatus barang bukti di kepolisian setelah insiden 28 Juni 2022, namun kemudian dipinjam untuk keperluan perawatan dan perbaikan sebelum kembali beroperasi dan mengalami kecelakaan lagi pada Januari 2023. Informasi tersebut menunjukkan pentingnya transparansi mengenai riwayat teknis dan status hukum kapal wisata.
Operator juga perlu menjelaskan siapa yang mengambil keputusan apabila perjalanan ditunda atau rute diubah. Wisatawan disarankan menyimpan bukti pemesanan dan nomor kontak operator agar perubahan jadwal dapat dikonfirmasi secara langsung.
4. Verifikasi akses layanan medis
Akses layanan medis menjadi faktor penting dalam perjalanan laut ke kawasan wisata yang jauh dari fasilitas kesehatan besar. Dalam beberapa insiden kapal tenggelam atau kecelakaan di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, korban dievakuasi ke rumah sakit di Labuan Bajo seperti RSUD Komodo dan rumah sakit swasta untuk mendapatkan perawatan.
Sebelum berangkat, wisatawan dapat menanyakan kepada operator dan pemandu wisata mengenai rencana evakuasi darurat, lokasi fasilitas kesehatan terdekat, serta ketersediaan alat pertolongan pertama di kapal. Informasi ini membantu penumpang dengan riwayat penyakit atau kondisi khusus dalam menilai risiko perjalanan.
Wisatawan dengan penyakit kronis juga perlu mempertimbangkan kemampuan fisik, terutama jika perjalanan mencakup aktivitas seperti pendakian di Pulau Padar. Pejabat pariwisata pernah mengingatkan bahwa jalur pendakian di pulau tersebut membutuhkan kondisi tubuh yang prima, sehingga pengunjung dengan riwayat sakit disarankan memilih lokasi lain di sekitar Labuan Bajo.
Konteks keselamatan pelayaran wisata
Selain KLM Tiana, sejumlah kapal wisata lain di Labuan Bajo dan perairan Taman Nasional Komodo pernah mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk, gelombang tinggi, atau arus kuat. Dalam beberapa kasus, seluruh penumpang berhasil dievakuasi dengan selamat, sementara dalam insiden lain terdapat korban luka atau meninggal.
Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa keselamatan pelayaran wisata bergantung pada kombinasi faktor: keputusan otoritas pelabuhan, kedisiplinan operator dalam mematuhi prakiraan cuaca dan kapasitas kapal, kesiapan peralatan keselamatan, serta pemahaman wisatawan terhadap risiko laut.
Sumber
Berita berikutnya

KSOP Labuan Bajo Periksa Kesiapan Kapal Wisata dan Sosialisasikan Keselamatan
KSOP Kelas III Labuan Bajo memeriksa kesiapan kapal wisata dan menyosialisasikan keselamatan pelayaran di perairan Manggarai Barat. KLM Ratana disebut…
Baca juga




