Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Refleksi Relawan tentang Rumah Pascagempa Flores M7,7

Esai Sebastianus Utu di harian Flores Pos merekam pengalaman personal relawan pascagempa Flores magnitudo 7,7 dan mengajak pembaca memaknai ulang rumah sebagai ruang fisik dan batin di tengah proses pemulihan.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Esai Sebastianus Utu berjudul Bersyukur di tengah bencana: menemukan rumah sejati dan pengharapan pasca gempa Flores terbit di harian Flores Pos pada Minggu, 13 September 2026, dan merekam pengalaman personal seorang relawan di tengah kerusakan akibat rangkaian gempa bumi di Flores.

Dalam tulisan itu, Utu menggambarkan bangunan roboh, retakan pada jalan, dan kepanikan warga di sekitar lokasi terdampak gempa.

Ia menempatkan pengalaman berada di antara puing-puing sebagai titik tolak untuk merenungkan kembali arti rumah, kehidupan, dan pengharapan setelah bencana.

Gempa Flores dan konteks kebencanaan

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026.

BMKG mencatat gempa dangkal itu dipicu aktivitas sesar naik di zona Flores Back-Arc Thrust dan menimbulkan guncangan maksimum skala VII MMI di sejumlah titik di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka.

Survei lapangan BMKG juga menemukan indikasi likuefaksi berupa semburan pasir di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, serta tsunami dengan tinggi run-up hingga sekitar 2,7 meter di beberapa desa pesisir.

Lebih dari sebulan setelah gempa utama, BMKG melaporkan ribuan gempa susulan di wilayah NTT, dengan ratusan kejadian dirasakan masyarakat.

Rumah sebagai ruang fisik dan batin

Gagasan utama esai Utu adalah pemaknaan ulang terhadap rumah.

Ia mengurai bahwa rumah kerap dipahami sebagai bangunan dengan dinding dan atap yang memberi perlindungan dari cuaca serta ruang beraktivitas sehari-hari.

Saat gempa meruntuhkan bangunan, kehilangan yang dirasakan tidak berhenti pada kerusakan material, melainkan juga menyentuh rasa aman, ingatan, dan relasi yang selama ini berkelindan di ruang rumah.

Dalam refleksi Utu, rumah yang lebih mendasar tidak semata bergantung pada bangunan fisik.

Rumah dipahami sebagai keberlangsungan hidup, jejaring hubungan, dan harapan yang masih tersisa di tengah puing.

Kesempatan untuk tetap hidup setelah bencana ditafsirkan sebagai rahmat, yang membuka ruang bagi syukur sekaligus pengharapan.

Kerangka ini menempatkan syukur bukan sebagai pengganti kebutuhan pemulihan, melainkan sebagai cara mengakui pengalaman penyintas dan relawan yang harus berhadapan dengan kehancuran.

Pengharapan dan kebutuhan konkret warga

Bahasa pengharapan dalam esai tersebut relevan untuk membaca pemulihan dari sisi psikologis dan sosial.

Bangunan yang rusak, jalan yang retak, dan rasa takut setelah guncangan tetap merupakan persoalan konkret yang memerlukan pendataan, tempat berlindung, pemulihan layanan publik, serta dukungan kesehatan fisik dan mental.

Berbagai laporan resmi dan pemberitaan menyebutkan bahwa aktivitas gempa susulan di Flores dan NTT berlangsung selama beberapa minggu dengan intensitas menurun, namun masih cukup sering dirasakan warga.

Di tengah situasi itu, narasi syukur dan pengharapan seperti yang ditulis Utu dapat membantu pembaca memahami dimensi batin pemulihan, tanpa menutup kebutuhan akan informasi resmi mengenai risiko gempa susulan, jalur evakuasi, dan akses bantuan.

Esai tersebut lebih tepat dibaca sebagai kesaksian reflektif seorang relawan, bukan sebagai laporan lengkap mengenai situasi kebencanaan, data kerusakan, maupun penanganan darurat.

Artikel Flores Pos mencantumkan Wall Abulat sebagai editor, namun tidak merinci identitas lembaga relawan, wilayah operasi, atau bentuk bantuan yang diberikan.

Pemulihan pascagempa di Flores karenanya perlu dipahami melalui dua lapis: data kebencanaan yang disusun otoritas resmi, dan kesaksian personal seperti tulisan Utu yang mengajak pembaca memaknai ulang rumah sebagai ruang fisik dan batin yang terus dinegosiasikan setelah bencana.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.