Rakernas IAI di Labuan Bajo Dorong Hunian Flores Lebih Tahan Bencana
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menggelar Rakernas 2026 di Labuan Bajo, Manggarai Barat, dengan menjadikan momentum itu untuk mendorong pemulihan Flores pascagempa melalui hunian yang lebih aman dan tangguh bencana berlandaskan prinsip…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat — Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menjadikan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 di Labuan Bajo sebagai momentum mendorong pembangunan kembali wilayah Flores yang terdampak gempa dengan prinsip build back better, agar hunian warga lebih aman dan tangguh terhadap bencana.
Rakernas IAI 2026 berlangsung di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, pada 12–18 September 2026 dengan tema #IAIHadir – Bersama Bergerak Indonesia Berdampak.
Menurut pemberitaan RRI, pelaksanaan Rakernas di Labuan Bajo dimaksudkan sebagai bentuk kehadiran arsitek di tengah masyarakat Flores yang sedang menjalani proses pemulihan pascagempa.
Ketua IAI Nusa Tenggara Timur, Luiz Wilson, dalam laporan media lokal mendorong agar pembangunan kembali di Flores dilakukan dengan prinsip build back better, sehingga bangunan yang akan dibangun lebih aman dan tangguh menghadapi potensi bencana.
Luiz menyatakan Rakernas IAI 2026 menjadi ruang pertemuan antara arsitek, pemerintah, masyarakat penyintas bencana, akademisi, komunitas, pelaku konstruksi, dan generasi muda untuk menyusun langkah pemulihan Flores.
Ia menekankan pentingnya data kerusakan yang akurat dan penerapan standar konstruksi yang konsisten dalam perencanaan hunian pascabencana.
Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto, dalam wawancara yang dimuat media nasional menyampaikan bahwa rakernas di Labuan Bajo menjadi sarana bagi arsitek untuk terlibat langsung dalam pemulihan.
Georgius menegaskan bahwa rumah tahan gempa tidak harus mahal, asalkan desain, material, dan metode konstruksi tepat.
IAI melalui program IAI Hadir melakukan pendampingan kepada masyarakat terdampak gempa Flores, termasuk pemetaan awal dan penilaian cepat kondisi permukiman sebagai dasar edukasi mengenai pembangunan bangunan yang aman.
Dalam rangkaian Rakernas, panitia menyelenggarakan seminar arsitektur bertema kebencanaan Architecture for Resilience, Recovery and Humanity.
Seminar ini membahas peran arsitektur dalam meningkatkan ketangguhan lingkungan terhadap risiko bencana, perubahan iklim, dan kebutuhan kemanusiaan melalui penerapan material dan desain yang adaptif serta berkelanjutan.
Media daerah melaporkan bahwa Labuan Bajo tetap dipilih sebagai lokasi Rakernas meski Flores masih dalam proses pemulihan pascagempa bumi yang mengguncang pulau tersebut pada 15 Agustus 2026.
Dalam pemberitaan yang sama, IAI NTT menjelaskan keputusan mempertahankan agenda Rakernas di Labuan Bajo dilakukan setelah memperhatikan kondisi terkini pascagempa dan masukan dari berbagai pihak di tingkat pusat dan daerah.
Rangkaian kegiatan Rakernas tidak hanya berupa rapat organisasi, tetapi juga seminar, lokakarya build back better, pameran karya arsitek NTT, serta kegiatan edukasi publik.
Pameran karya arsitek NTT di Hotel Crowne Plaza Labuan Bajo selama empat hari dibuka untuk umum sebagai ruang edukasi dan promosi gagasan arsitektur lokal.
Selain itu, IAI mendorong pengembangan prototipe bangunan knockdown yang dapat dimanfaatkan sebagai infrastruktur darurat saat terjadi bencana, sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan permukiman pascabencana di Flores dan NTT.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Flores Raya
Gempa M5,1 Lamba Leda Dirasakan hingga Labuan Bajo, Tanpa Potensi Tsunami
Gempa bumi tektonik magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km mengguncang Lamba Leda, Manggarai Timur, Senin pagi 21 September 2026.
Terbaru di Kota Labuan Bajo
Berita utama hari ini


