PMI Rujuk 3–4 Pasien Cedera Serius per Hari ke RS Siloam Labuan Bajo
Palang Merah Indonesia memperkuat layanan kesehatan bagi korban gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur sejak 17 Agustus 2026.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Palang Merah Indonesia (PMI) memperkuat layanan kesehatan bagi korban gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur dengan merujuk pasien cedera serius dari posko medis ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo sejak 17 Agustus 2026, menurut laporan IDN Times.
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan laporan Radio Republik Indonesia (RRI).
Setiap hari, PMI merujuk sekitar tiga hingga empat pasien dengan cedera serius dari posko layanan medis ke helipad Basarnas sebelum mereka diterbangkan menggunakan helikopter menuju RS Siloam Labuan Bajo untuk penanganan lanjutan, menurut IDN Times.
Rujukan pasien cedera serius
Pasien yang dirujuk umumnya mengalami cedera berat, seperti patah tulang dan cedera kepala, sehingga membutuhkan fasilitas rujukan dengan layanan radiologi dan operasi yang lebih lengkap.
Menurut IDN Times, layanan utama PMI adalah mengantar pasien menggunakan ambulans dari posko layanan medis menuju helipad Basarnas, yang menjadi titik penghubung sebelum pasien diterbangkan ke Labuan Bajo.
Laporan RRI menyebutkan bahwa gempa mengganggu pelayanan kesehatan di Labuan Bajo sehingga pasien di RSUD Komodo dan Siloam Hospitals Labuan Bajo sempat dievakuasi ke area terbuka untuk mengantisipasi gempa susulan.
Data operasi PMI
- Mulai beroperasi memperkuat layanan kesehatan: Senin, 17 Agustus 2026.
- Rujukan harian: sekitar tiga hingga empat pasien cedera serius.
- Penambahan personel: satu dokter dan dua tenaga kesehatan dari PMI Pusat mulai Rabu, 19 Agustus 2026.
Layanan menjangkau pos pengungsian
IDN Times melaporkan bahwa tim PMI bersama tenaga kesehatan dinas kesehatan setempat mendatangi pos-pos pengungsian untuk memeriksa warga terdampak.
Di pos pengungsian, petugas kesehatan menangani keluhan seperti sesak napas, batuk, memar, dan luka ringan yang dialami warga setelah gempa.
Layanan keliling tersebut dilakukan di tengah kondisi sejumlah puskesmas yang mengalami kerusakan berat akibat gempa, sehingga kapasitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak terbatas.
Penambahan tenaga medis dan konteks bencana
Mulai Rabu, 19 Agustus 2026, satu dokter dan dua tenaga kesehatan dari PMI Pusat dijadwalkan bergabung dengan tim ambulans dan tenaga kesehatan setempat untuk memperkuat pelayanan bagi warga terdampak gempa.
Menurut Beritasatu, PMI mengerahkan sekitar 35 personel, tujuh kendaraan operasional, dan tujuh ambulans untuk penanganan masyarakat terdampak gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, termasuk Manggarai dan Manggarai Timur.
Data sementara BNPB yang dikutip Beritasatu menyebut sedikitnya 47 orang tewas di lima kabupaten terdampak, yaitu Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, dan Ende, sementara sejumlah puskesmas dan satu rumah sakit dilaporkan rusak akibat guncangan.
BBC News Indonesia melaporkan bahwa Kelurahan Pota dan Dampek di Kabupaten Manggarai Timur termasuk wilayah yang terdampak paling parah, dengan puskesmas yang rusak dan gangguan listrik serta komunikasi.
Dalam situasi tersebut, rujukan pasien cedera serius ke RS Siloam Labuan Bajo dan penguatan layanan keliling PMI di pos pengungsian menjadi bagian dari upaya menjaga akses layanan kesehatan bagi warga di wilayah terdampak gempa.
Sumber
Berita berikutnya
Kemenkes Bangun Dua RS Lapangan di RSUD Ruteng dan Aeramo
Kementerian Kesehatan membangun dua rumah sakit lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, untuk menjaga layana…
Baca juga




