Kabar Labuan Bajo

Senin, 2 November 2026

PLN Kembangkan Geowisata Mataloko di Ngada

PLN UIP Nusra mengembangkan Geowisata Mataloko di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Ngada. Pembangunan memasuki tahap akhir dan ditargetkan selesai pada awal 2027.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Bentang alam perbukitan hijau dengan uap panas bumi mengepul dari tanah di bawah langit mendung.
Ilustrasi: Bentang alam perbukitan hijau dengan uap panas bumi mengepul dari tanah di bawah langit mendung. · Foto: Balázs Gábor / Pexels

Ngada — PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) mengembangkan kawasan Geowisata Mataloko di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Destinasi berbasis manifestasi panas bumi itu memasuki tahap akhir pembangunan dan ditargetkan rampung pada awal 2027.

Kawasan ini memanfaatkan lokasi fenomena panas bumi yang sebelumnya dipasangi peringatan bahaya dan larangan masuk. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperluas pemanfaatan potensi panas bumi sekaligus menghadirkan wisata edukasi bagi pengunjung.

Rencana kawasan geowisata berjalan bersamaan dengan persiapan pengeboran PLTP Mataloko FTP-2. PLN telah merampungkan pembangunan empat wellpad, jalan akses sekitar delapan kilometer, dan laydown area. Kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA), yakni kajian dampak lingkungan dan sosial, masih diselesaikan, terutama terkait rencana pengambilan serta pemanfaatan air untuk kebutuhan pengeboran.

Geowisata Mataloko penting karena membuka akses edukasi panas bumi

Bagi pembaca di Labuan Bajo dan Flores, pengembangan ini menambah pilihan destinasi berbasis potensi alam di Nusa Tenggara Timur. Namun, lokasi manifestasi panas bumi tetap membutuhkan pengelolaan keselamatan yang ketat karena sebelumnya dikaitkan dengan semburan uap dan lumpur panas.

Kawasan tersebut dirancang sebagai destinasi wisata edukasi. Penataan fasilitas mencakup jalur pejalan kaki atau boardwalk agar pengunjung dapat mengamati fenomena panas bumi dari jalur yang lebih tertata. Sistem pendeteksi gas juga disiapkan untuk mendukung keselamatan pengunjung, mengingat hidrogen sulfida atau H₂S dapat berbahaya pada konsentrasi tertentu.

Pengembangan kawasan ini juga berkaitan dengan sejarah proyek panas bumi Mataloko. Lokasi tersebut pernah mengalami semburan liar dan dampak sosial-ekologis yang membuat kawasan dibatasi. Karena itu, informasi keselamatan dan pengaturan akses perlu menjadi bagian utama ketika destinasi dibuka.

PLN menargetkan kawasan geowisata selesai pada awal 2027. Tahapan berikutnya meliputi penyelesaian kajian ESIA dan persiapan pengeboran PLTP Mataloko FTP-2 berkapasitas 2x10 Megawatt.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Terbaru di Flores Raya

  2. Berita utama hari ini

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.