Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Kematian Aris Sanda, Sopir Lajuran Toraja di Tanjakan Gunung Boy

Seorang sopir lajuran asal Toraja, Aris Sanda, tewas dalam serangan kelompok bersenjata di tanjakan Gunung Boy, jalur Trans Wamena–Mbua, Papua Pegunungan, pada 15 September 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Labuan Bajo — Seorang pengemudi kendaraan lajuran bernama Aris Sanda, warga asal Toraja, Sulawesi Selatan, tewas dalam serangan kelompok bersenjata di jalur Trans Wamena–Mbua, kawasan tanjakan Gunung Boy, Papua Pegunungan, pada Selasa, 15 September 2026, saat membawa penumpang dan logistik.

Peristiwa ini diangkat dalam esai Anselmus Dore Woho Atasoge berjudul Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy) yang terbit di Flores Pos pada 17 September 2026, sebagai ratapan atas kematian seorang perantau Toraja yang bekerja sebagai sopir lajuran di Papua.

Menurut kesaksian aparat yang dikutip sejumlah media, serangan terjadi di sekitar pertigaan Danau Habema, kawasan Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya, ketika Aris mengemudikan kendaraan dari Wamena menuju Mbua, Kabupaten Nduga, membawa sembilan penumpang dan muatan barang.

Dalam laporan radio publik, Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Habema, Letkol Infantri M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa insiden berlangsung sekitar pukul 06.00 WIT di jalur Trans Papua dan berujung pada ditemukannya satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudi di dalamnya.

Sejumlah laporan menyebut kelompok bersenjata yang menghadang dan kemudian menembak Aris sebagai bagian dari Organisasi Papua Merdeka atau kelompok kriminal bersenjata Kodap III Ndugama, yang beroperasi di wilayah pegunungan Papua.

Perantau Toraja di jalur berat Papua

Flores Pos menggambarkan Aris sebagai putra Toraja yang merantau ke Papua dan menggantungkan hidup pada pekerjaan sebagai pengemudi lajuran, sebuah moda angkutan yang melayani rute antarkabupaten di jalur pegunungan.

Dalam esai itu, penulis menempatkan kisah Aris sebagai simbol kerentanan warga perantau yang mencari nafkah di daerah konflik, hidup dari pekerjaan yang menempatkan mereka terus-menerus di jalan dan berhadapan dengan risiko keamanan.

Media lain menelusuri latar belakang Aris sebagai perantau yang telah lama menetap di Papua Pegunungan dan dikenal di kalangan sopir lajuran, sehingga kabar kematiannya mengguncang jejaring keluarga dan komunitas perantau Toraja di wilayah itu.

Kematian Aris di tanjakan Gunung Boy menegaskan bahwa warga sipil yang menjalankan pekerjaan harian di jalur logistik dan transportasi dapat sewaktu-waktu terperangkap dalam kekerasan bersenjata, meski tidak terlibat langsung dalam konflik politik.

Rekaman paksa dan pembakaran kendaraan

Menurut esai Flores Pos dan pemberitaan beberapa media, sebelum tewas Aris dipaksa merekam pernyataan dukungan politik di bawah ancaman kelompok bersenjata, sementara penumpang yang dibawanya diintimidasi dan diperiksa di lokasi kejadian.

Sesudah rekaman paksa itu, Aris dilaporkan ditembak hingga meninggal dunia, sedangkan sembilan penumpangnya berhasil selamat dan kemudian dievakuasi dari lokasi serangan oleh aparat keamanan.

Aparat gabungan TNI melakukan pencarian pasca-penyerangan dan melaporkan menemukan kendaraan yang dikemudikan Aris dalam keadaan hangus terbakar dengan jenazah korban di dalamnya, di sekitar kawasan Danau Habema, Gunung Boy.

Pembakaran kendaraan angkutan dan pemaksaan rekaman politik yang digambarkan media serta esai Flores Pos menjadi titik tekan tentang bagaimana kekerasan bersenjata tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merendahkan martabat korban.

Nama, asal, dan rincian yang terkonfirmasi

Flores Pos menyebut Aris Sanda sebagai warga Lembang Tampan Bonga, Toraja Utara, dan menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai perantau yang mengambil risiko bekerja di jalur berat Trans Wamena–Nduga.

Media lain mengonfirmasi bahwa Aris adalah warga asal Toraja yang telah lama merantau dan bekerja sebagai sopir lajuran di Papua Pegunungan, dengan usia sekitar 45 tahun saat peristiwa terjadi.

Dari berbagai laporan, sejumlah data yang kini terkonfirmasi adalah nama korban, asal daerah, pekerjaan sebagai sopir lajuran, lokasi serangan di tanjakan Gunung Boy sekitar pertigaan Danau Habema, waktu kejadian pada Selasa, 15 September 2026, serta temuan kendaraan terbakar dengan jenazah korban di jalur Trans Papua.

Berbagai kesaksian yang dikutip media dan ditulis ulang dalam esai Flores Pos memperlihatkan bahwa bagi keluarga dan komunitas perantau, kepastian informasi mengenai nasib Aris menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada seorang pekerja jalan yang kehilangan nyawa di rute yang selama bertahun-tahun ia lalui.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.