Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

61 Mahasiswa KKN UMY Selamat, Kampus Bantu Warga Usai Gempa NTT

Perguruan tinggi di NTT dan luar daerah mengerahkan relawan, tenaga medis, dan bantuan kemanusiaan setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Labuan Bajo — Sejumlah perguruan tinggi mengerahkan relawan, tenaga medis, psikolog, dan bantuan kebutuhan dasar setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Sebanyak 61 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berada di NTT dipastikan selamat dan dievakuasi ke lokasi yang lebih aman bersama warga setempat, menurut keterangan kampus dan pemberitaan media.

Menurut laporan media pendidikan dan pernyataan resmi kampus, para mahasiswa KKN UMY yang berada di wilayah Manggarai Barat dan Manggarai Timur merasakan kuatnya guncangan gempa dan ancaman tsunami. Mereka segera melakukan evakuasi mandiri ke area perbukitan dan mendirikan tenda-tenda darurat bersama warga, sambil membantu proses evakuasi dan penanganan awal di pengungsian.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyatakan koordinasi dengan perguruan tinggi di NTT dan daerah sekitar diperkuat melalui pertemuan daring dan rapat koordinasi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan prioritas pemerintah adalah memastikan keselamatan sivitas akademika serta menjaga agar penanganan pascabencana berlangsung cepat dan terkoordinasi.

Evakuasi mahasiswa dan peran kampus

Kampus UMY menyampaikan bahwa 61 mahasiswa KKN di Flores berada dalam kondisi aman dan tidak ada korban jiwa dari rombongan mereka. Humas kampus menjelaskan, setelah gempa dan peringatan dini tsunami, mahasiswa segera mengamankan barang penting lalu bergerak ke perbukitan untuk mengungsi bersama warga.

Di pengungsian, mahasiswa KKN UMY mengalihkan sebagian kegiatan KKN menjadi dukungan relawan bagi warga terdampak. Mereka ikut membantu evakuasi warga, membangun tenda darurat, dan mendampingi masyarakat di lokasi pengungsian.

Menurut Kemdiktisaintek, perguruan tinggi lain di wilayah terdampak juga mengaktifkan posko, mendukung distribusi logistik, dan melakukan evakuasi mahasiswa yang menjadi korban reruntuhan bangunan. Dosen, instruktur, dan mahasiswa dari kampus-kampus tersebut terlibat dalam pendirian tenda di rumah sakit, penyaluran makanan, serta dukungan bagi keluarga terdampak.

Koordinasi Kemdiktisaintek di NTT

Pemerintah pusat melalui Kemdiktisaintek menggelar rapat koordinasi dengan para rektor perguruan tinggi di NTT dan Nusa Tenggara Barat beberapa hari setelah gempa. Dalam keterangan tertulis, Brian Yuliarto menyebut keselamatan sivitas akademika sebagai perhatian utama, diikuti penataan peran kampus dalam penanganan bencana.

Kemdiktisaintek mendorong kampus untuk memetakan kebutuhan di wilayah masing-masing, termasuk dukungan tenaga kesehatan, bantuan logistik, dan program pemulihan bagi mahasiswa. Pemerintah menyiapkan kebijakan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester bagi ribuan mahasiswa terdampak gempa di NTT, termasuk mahasiswa asal NTT yang kuliah di luar daerah bencana.

Brian juga menyatakan laporan dari sivitas akademika akan digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang belum terjangkau bantuan, sehingga dapat menjadi prioritas dukungan berikutnya. Koordinasi dilakukan bersama lembaga layanan pendidikan tinggi di wilayah tersebut.

Bantuan dari luar NTT

Dukungan dari luar NTT datang, antara lain, melalui program kemanusiaan perguruan tinggi di Pulau Jawa. Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program ITB Peduli melaksanakan misi kemanusiaan di Flores pada 17–21 Agustus 2026.

Tim ITB Peduli berangkat dari Labuan Bajo dan bergerak melalui jalur darat menuju Kecamatan Reo di Kabupaten Manggarai dan beberapa lokasi lain di Flores. Di lapangan, tim bekerja sama dengan mitra lokal untuk membangun shelter darurat, menyediakan akses air bersih, dan memetakan kebutuhan masyarakat pascabencana.

Program bantuan tersebut memperlihatkan peran perguruan tinggi sebagai bagian dari jejaring dukungan kemanusiaan lintas daerah. Selain memastikan keselamatan mahasiswa dan dosen, kampus berkontribusi dalam layanan kesehatan, pendampingan psikososial, distribusi logistik, dan pemulihan kehidupan warga terdampak.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.