Pura Agung Giri Segara di Bukit Tondong Ras dan Pasraman Widya Saraswati
Pura Agung Giri Segara berdiri di puncak Bukit Tondong Ras, Labuan Bajo, Manggarai Barat. Pura yang dibangun pada 2002 ini menjadi pusat kegiatan ibadah umat Hindu dan dilengkapi Pasraman Widya Saraswati untuk pendidikan agama.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pura Agung Giri Segara berdiri di puncak Bukit Tondong Ras, Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Pura yang dibangun pada 2002 ini dikenal sebagai salah satu rumah ibadah utama umat Hindu di Labuan Bajo dan dimanfaatkan puluhan umat untuk bersembahyang pada hari raya maupun hari-hari tertentu.
Lokasi pura berada di kawasan perbukitan yang menghadap langsung ke laut Labuan Bajo. Menurut laporan media dan tulisan perjalanan, dari kompleks pura pengunjung dapat melihat gugusan pulau, kapal wisata, dan kapal pinisi yang berlayar di perairan sekitar kota.
Pura Agung Giri Segara berada tidak jauh dari kawasan permukiman dan fasilitas wisata di Labuan Bajo. Media nasional mencatat, akses ke pura dapat ditempuh melalui jalan yang sama menuju salah satu hotel di Bukit Tondong Ras, sementara tulisan perjalanan lain menyebut jaraknya sekitar beberapa menit berkendara dari Pelabuhan dan Bandara Komodo.
Sejarah lokasi dan pembangunan pura
Menurut keterangan pemangku pura yang dikutip media, lokasi Pura Agung Giri Segara memiliki kisah sejarah yang berkaitan dengan masa kolonial. Cerita turun-temurun menyebut bukit tempat pura berdiri dahulu digunakan pejuang Manggarai untuk memantau kedatangan musuh dari arah Bima, Nusa Tenggara Barat, melalui jalur laut.
Media yang sama memberitakan lahan pura seluas sekitar 4.000 meter persegi. Lahan tersebut sebelumnya merupakan tanah ulayat masyarakat adat setempat dan dibeli melalui kesepakatan adat pada 1992 oleh tokoh Hindu lokal bersama umat di Labuan Bajo.
Pura kemudian dibangun pada 2002 dan sejak itu menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di wilayah Labuan Bajo. Awalnya, pura digunakan oleh belasan umat Hindu. Dalam laporan media, jumlah umat yang memanfaatkan pura lalu meningkat menjadi puluhan hingga mendekati seratus lima puluh orang, sebagian besar bekerja di instansi pemerintahan dan aparat keamanan.
Kegiatan ibadah umat Hindu
Persembahyangan di Pura Agung Giri Segara berlangsung pada hari-hari besar keagamaan Hindu seperti Galungan, Kuningan, dan Nyepi. Di luar hari raya, umat melaksanakan kegiatan ibadah secara rutin pada hari Purnama dan Tilem setiap bulan.
Selain umat yang tinggal di Labuan Bajo, wisatawan Hindu yang berkunjung ke kota ini juga tercatat datang bersembahyang di Pura Agung Giri Segara. Media nasional menulis bahwa kehadiran pengunjung dari luar daerah menunjukkan peran pura sebagai ruang ibadah yang terbuka bagi umat Hindu yang sedang berada di Labuan Bajo.
Tulisan perjalanan lain menggambarkan suasana pura yang berada di atas bukit dengan hamparan laut dan perbukitan khas Labuan Bajo, menjadikannya salah satu titik yang dikenal di kalangan peziarah maupun wisatawan.
Pasraman Widya Saraswati
Kompleks Pura Agung Giri Segara juga menjadi lokasi Pasraman Widya Saraswati, sebuah lembaga pendidikan nonformal agama Hindu. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat melaporkan bahwa pasraman ini diresmikan pada November 2013 dan berdiri di depan pura dengan bangunan berukuran sekitar 7 x 12 meter.
Menurut Kementerian Agama, pendirian Pasraman Widya Saraswati didanai dari anggaran program Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat. Peresmian dihadiri pejabat Kemenag setempat, pemangku pura, dan umat Hindu Labuan Bajo.
Dalam laporan lain, Kementerian Agama menjelaskan bahwa kegiatan pasraman bertujuan meningkatkan sradha dan bhakti peserta didik melalui pengamalan ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain pembelajaran ajaran agama, persembahyangan, kerja bakti membersihkan pura, dan dharma gita.
Keberadaan umat Hindu sebagai minoritas
Media nasional mencatat pernyataan pemangku Pura Agung Giri Segara bahwa umat Hindu di Manggarai Barat merupakan kelompok minoritas yang tetap dapat menjalankan ibadah dengan baik. Menurutnya, hubungan dengan umat beragama lain di daerah tersebut berjalan harmonis dan kegiatan keagamaan dapat berlangsung tanpa gangguan.
Pelaksanaan kegiatan pasraman, ibadah rutin, serta perayaan hari raya di kompleks Pura Agung Giri Segara menunjukkan peran pura ini sebagai pusat kehidupan keagamaan dan sosial umat Hindu di Labuan Bajo. Letaknya yang berada di kawasan wisata sekaligus menghadirkan ruang perjumpaan antara komunitas lokal dan pengunjung dari luar daerah.
Sumber
- Detik.com - "Pura Agung Giri Segara, Satu-satunya Pura di Puncak Bukit Labuan Bajo"
- Wikipedia bahasa Indonesia - "Pura Agung Giri Segara"
- Kementerian Agama Provinsi NTT - "Pasraman Adalah Wahana Tingkatkan Sradha dan Bhakti"
- Tatkala.co - "Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang"
- Trip.com - Profil hotel dengan penanda jarak ke Pura Agung Giri Segara
Berita berikutnya
NTT waspada gelombang sedang di perairan Flores, Sape, Alor, dan sekitarnya
BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang memprakirakan gelombang laut kategori sedang di sejumlah perairan Nusa Tenggara Timur pada periode 19–20…
Baca juga




