Kabar Labuan Bajo

Jumat, 25 September 2026

Murid Kampung Wohe Tak Masuk Sekolah Setelah Bentrokan di Manggarai

Murid dari Kampung Wohe tidak masuk SD Inpres Timung sejak 21 September setelah bentrokan dengan warga Kampung Timung. Orang tua mempertimbangkan mutasi, sementara sekolah menggelar kelas darurat.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Ruang kelas kosong dengan deretan meja dan kursi sekolah tanpa murid.
Ilustrasi: Ruang kelas kosong dengan deretan meja dan kursi sekolah tanpa murid. · Foto: RDNE Stock project / Pexels

SD Inpres Timung — Murid dari Kampung Wohe, Desa Bangka Jong, tidak mengikuti pembelajaran di SD Inpres Timung sejak 21 September 2026 setelah bentrokan dengan warga Kampung Timung menimbulkan trauma. Pada 22 September 2026, hanya 12 murid asal Kampung Timung yang terlihat mengikuti pembelajaran di salah satu kelas darurat.

Mengapa ini penting: Ketidakhadiran murid Kampung Wohe membuat pembelajaran di SD Inpres Timung berlangsung dalam kelas darurat dan mendorong orang tua mempertimbangkan sekolah tujuan baru.

Guru SD Inpres Timung, Ebertus Ngera Sega, mengatakan ketidakhadiran murid dari Kampung Wohe merupakan dampak langsung dari ketegangan antara warga kedua kampung. Sebagian kursi di kelas darurat yang berlangsung di rumah adat tampak kosong pada 22 September.

Menurut laporan Floresa.co, kursi-kursi itu sebelumnya ditempati murid dari Kampung Wohe. Para murid memilih tidak masuk sekolah setelah perkelahian antarkelompok warga pada 18 September 2026 menewaskan Benediktus Paang, 19 tahun, warga Kampung Timung.

Kepala SD Inpres Timung, Kosmas, membenarkan bahwa sejak 21 September tidak ada siswa dari Kampung Wohe yang hadir di sekolah. Sejumlah orang tua mempertimbangkan memindahkan anak mereka ke sekolah lain karena khawatir terhadap dampak bentrokan tersebut.

Rencana pemindahan itu masih menunggu keputusan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga. Pejabat dinas, Wensislaus, mengatakan siswa yang hendak pindah harus memiliki sekolah tujuan karena mutasi dilakukan setelah mendapat persetujuan sekolah penerima.

Wensislaus juga menyebut rencana mutasi siswa kelas VI sekolah dasar dan kelas III sekolah menengah pertama menghadapi persoalan administrasi karena pemutakhiran Data Pokok Pendidikan telah berakhir pada 31 Agustus 2026. Untuk siswa kelas VI SD, ia mengatakan data yang telah dikirim membuat mereka tidak dapat langsung dipindahkan.

Guru tetap menggelar kelas darurat sambil menunggu keputusan dinas. Menurut keterangan yang dikutip Floresa.co, siswa kelas VI kemungkinan tetap bersekolah di SD Inpres Timung setelah dua pekan.

Perkelahian yang memicu situasi tersebut terjadi di jalan raya depan kemah pesta di Kampung Wohe pada malam 18 September 2026. Laporan Floresa.co dan Tribunnews.com menyebut peristiwa itu melibatkan warga Kampung Timung dan Kampung Wohe serta menyebabkan satu orang meninggal.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Sosial & Kemanusiaan

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.