Kabar Labuan Bajo

Minggu, 1 November 2026

Mengapa Flores Back-Arc Thrust penting bagi Ruteng dan Labuan Bajo

BMKG menyebut gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026 bersumber dari Flores Back-Arc Thrust. Guncangan dirasakan di Ruteng dan berdampak di sejumlah wilayah Flores.

Oleh

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tampilan jarak dekat lapisan batuan geologi dengan tekstur dan rekahan alami.
Ilustrasi: Tampilan jarak dekat lapisan batuan geologi dengan tekstur dan rekahan alami. · Foto: Silvia Marcoschamer / Pexels

Ruteng — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa Flores bermagnitudo M7,7 pada 15 Agustus 2026 bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Guncangan dirasakan di Kota Ruteng dan BMKG mencatat dampak hingga wilayah Manggarai.

Gempa terjadi pada pukul 04:58:23 WIB dengan episenter di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Analisis BMKG menggolongkannya sebagai gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault. Struktur Flores Back-Arc Thrust disebut sebagai salah satu sumber gempa aktif di Nusa Tenggara.

Dokumen BMKG mencatat guncangan maksimum mencapai VIII MMI di Stasiun Meteorologi Ruteng dan Langke Rembong, Manggarai. Peringatan dini tsunami untuk gempa tersebut kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07:30 WIB.

Mengapa risiko ini penting bagi pembaca di Labuan Bajo

Informasi ini relevan bagi Labuan Bajo karena BMKG mencatat kerusakan pada sejumlah wilayah di Flores, termasuk Manggarai Barat dan Labuan Bajo. Pada peristiwa 15 Agustus 2026, gempa juga memicu tsunami di sejumlah lokasi dan berdampak pada kawasan pesisir. Bagi warga, pelaku usaha, dan pengguna pelayaran di Labuan Bajo, keterangan resmi tentang sumber gempa, guncangan, dan peringatan tsunami menjadi dasar untuk mengikuti arahan kebencanaan, mengenali jalur evakuasi, serta tidak mengabaikan peringatan di pesisir.

BMKG juga melaporkan gempa susulan dalam jumlah tinggi setelah gempa utama. Hingga 20 Agustus 2026 pukul 05:00 WIB, tercatat 3394 gempa susulan dengan magnitudo antara M1,1 dan M6,2. Data tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan perlu berbasis informasi resmi dan pemantauan berkelanjutan, bukan perkiraan pribadi.

Untuk wilayah Ruteng dan sekitarnya, laporan yang tersedia menyebut gempa dan sumber tektoniknya, tetapi tidak memuat keterangan BMKG tentang awal musim hujan pada dasarian ketiga Oktober. Karena itu, informasi musim hujan tersebut tidak dimasukkan sebagai fakta dalam artikel ini.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Data Mabar

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.