Kabar Labuan Bajo

Rabu, 14 Oktober 2026

Apa Arti Data Tsunami 1,61 Meter di Reo dan Manggarai Timur?

BMKG mencatat tsunami setinggi 1,61 meter di Reo, Manggarai, dan Manggarai Timur setelah gempa Flores. Peringatan dini berakhir pukul 07.30 WIB.

Oleh

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Perairan di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Ilustrasi: Perairan di Flores, Nusa Tenggara Timur. · Foto: Jakub Hałun / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Reo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gelombang tsunami tiba di Reo, Manggarai, dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter setelah gempa tektonik dangkal magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Data ini menjadi dasar untuk membaca jejak tsunami dan tingkat guncangan di Flores, bukan ukuran tunggal untuk seluruh wilayah pesisir.

BMKG mencatat gelombang di Maurole, Ende, setinggi 0,94 meter. Gelombang di Bulukumba dan Sape, Bima, melampaui 0,5 meter. Dalam sistem pemodelan BMKG, status Siaga menunjukkan potensi gelombang 0,5 meter hingga 3 meter, sedangkan Waspada berlaku untuk ketinggian di bawah 0,5 meter.

Peringatan Dini Tsunami BMKG berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut menunjukkan tidak ada lagi kenaikan signifikan yang membahayakan. Angka 1,61 meter merupakan hasil pengamatan jaringan pengukur muka air laut atau tide gauge, sehingga perlu dibaca bersama lokasi dan waktu pengukurannya.

Data tsunami dan guncangan penting bagi pesisir Labuan Bajo

Bagi pembaca di Labuan Bajo dan wilayah pesisir Flores, catatan Reo dan Manggarai Timur menunjukkan bahwa dampak gempa dapat berbeda antarwilayah. Jarak dari sumber gempa, bentuk pantai, kedalaman perairan, dan kondisi setempat memengaruhi tinggi gelombang yang terukur. Karena itu, satu angka tidak boleh dipakai untuk memperkirakan tinggi tsunami di kampung atau desa lain.

BMKG juga mencatat guncangan maksimum skala VII MMI di Aesesa, Riung, Kota Ambai, Manggarai, dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae dan Kota Bajawa. MMI menggambarkan tingkat guncangan yang dirasakan dan dampaknya di lokasi, bukan magnitudo gempa atau tinggi tsunami.

Untuk keselamatan, warga pesisir perlu mengikuti peringatan resmi BMKG dan arahan pemerintah daerah ketika terjadi gempa kuat atau peringatan tsunami. Setelah peringatan berakhir, pemantauan tetap menjadi rujukan sebelum aktivitas di pantai, pelabuhan, dan kawasan rendah kembali normal.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

    BMKG Tetapkan NTT Berstatus Awas Kekeringan

    Sosial & Kemanusiaan

    BMKG Tetapkan NTT Berstatus Awas Kekeringan

    BMKG menetapkan seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur berstatus Awas kekeringan meteorologis pada 11–20 Oktober 2026. Warga Flores diminta memperhatikan…

  2. Terbaru di Flores Raya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.