Kabar Labuan Bajo

Rabu, 7 Oktober 2026

Tim UNWIRA Susun Prototipe Bangunan Tahan Gempa di Flores

Tim Universitas Katolik Widya Mandira menyurvei tujuh kabupaten Flores pada 6 Oktober 2026. Kajian ini menyiapkan tiga prototipe rumah rakyat dan satu sekolah tahan gempa.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Konstruksi rangka kayu dan tumpukan papan di dalam loteng bangunan.
Ilustrasi: Konstruksi rangka kayu dan tumpukan papan di dalam loteng bangunan. · Foto: Mike van Schoonderwalt / Pexels

Flores — Tim akademisi dan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira melakukan kajian lapangan di tujuh kabupaten terdampak gempa Flores pada 6 Oktober 2026. Survei itu mencakup Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.

Kajian tersebut menargetkan tiga prototipe rumah rakyat berukuran kecil, sedang, dan besar, serta satu prototipe sekolah tahan gempa. Tim akan mengidentifikasi tipologi bangunan, antara lain bahan dinding, bentuk bangunan, sistem rangka atap, kolom, balok, dan sambungan konstruksi.

Tim juga mendokumentasikan pola retak dan tingkat kerusakan bangunan akibat gempa. Data lapangan itu dipakai untuk menyusun prototipe serta panduan teknis bangunan aman bencana yang sesuai dengan kondisi lokal.

Prototipe menjadi acuan bangunan aman di tujuh kabupaten

Bagi warga Flores, hasil kajian ini berkaitan langsung dengan rumah dan sekolah di wilayah yang terdampak gempa. Rekomendasi yang memakai data bahan, bentuk, serta kerusakan bangunan setempat dapat membantu memperkuat dasar pembangunan dan pemulihan pascabencana.

Kajian dilakukan bersama Program SIAP SIAGA. Temuan lapangan nantinya menjadi bahan penyusunan panduan teknis rumah dan sekolah aman bencana sekaligus rekomendasi kebijakan pembangunan pascabencana.

Survei sebelumnya dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 15–25 Agustus 2026 juga mencakup tujuh kabupaten terdampak. BMKG melaporkan guncangan maksimum skala VII MMI di beberapa titik Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka. Di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, BMKG menemukan indikasi likuefaksi.

Tahap berikutnya yang disebut dalam laporan adalah penyusunan tiga prototipe rumah rakyat, satu prototipe sekolah tahan gempa, panduan teknis, dan rekomendasi kebijakan berdasarkan temuan survei.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Paling ramai di Flores Raya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.