Mengapa Data Kunjungan Wisatawan Labuan Bajo Perlu Dibaca Bersama PDRB?
Jumlah kunjungan wisatawan memberi gambaran arus ke Manggarai Barat, tetapi tidak otomatis mengukur dampak ekonomi. Kuncinya terletak pada periode, jenis wisatawan, cakupan wilayah, dan indikator PDRB.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Data pariwisata Manggarai Barat belum cukup dibaca dari jumlah kunjungan saja. Angka kunjungan perlu ditempatkan bersama jenis wisatawan, periode pencatatan, dan cakupan wilayah agar pembaca dapat membedakan arus wisatawan dari ukuran dampak ekonomi di Labuan Bajo.
Berapa kunjungan wisatawan yang tercatat?
Pada Mei 2025, kunjungan wisatawan nusantara ke Kabupaten Manggarai Barat tercatat 58.278 kunjungan, menurut Badan Pusat Statistik Republik Indonesia yang dikutip Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores pada 2025.
Angka itu menghitung kunjungan wisatawan nusantara pada periode Mei 2025. Karena bukan angka tahunan dan tidak mencakup seluruh jenis wisatawan, angka tersebut tidak dapat dipakai sendirian untuk menggambarkan total pariwisata sepanjang tahun.
Mengapa angka kunjungan tidak otomatis berarti dampak ekonomi?
Jumlah kunjungan menunjukkan banyaknya kunjungan yang tercatat, bukan nilai belanja, lama tinggal, asal pendapatan, atau pembagian manfaat antarpelaku ekonomi. Untuk membaca dampak ekonomi, data kunjungan perlu dibandingkan dengan indikator ekonomi resmi yang cakupannya jelas.
BPS Kabupaten Manggarai Barat menerbitkan publikasi “PDRB Manggarai Barat Menurut Lapangan Usaha 2020–2024” pada 2025. PDRB memberikan kerangka untuk melihat kegiatan ekonomi menurut lapangan usaha, sedangkan data kunjungan menjelaskan arus wisatawan.
Apa yang harus diperiksa ketika membaca statistik pariwisata?
- Periode pencatatan, apakah bulanan, tahunan, atau kumulatif.
- Jenis wisatawan, apakah nusantara, mancanegara, atau gabungan.
- Wilayah penghitungan, apakah Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, atau kawasan tertentu.
- Makna angka, apakah kunjungan, orang, malam menginap, penerimaan, atau kontribusi ekonomi.
Perbedaan definisi itu menentukan kesimpulan. Dua angka yang sama-sama disebut “wisatawan” belum tentu mengukur hal yang sama.
Bagaimana posisi Labuan Bajo dalam tata kelola data?
BPOLBF dan BPS RI membahas penguatan data serta tata kelola statistik pariwisata Labuan Bajo dalam audiensi pada 14 Juli 2025, menurut BPOLBF. Keterangan itu menunjukkan bahwa pengumpulan dan penyelarasan data menjadi bagian penting dalam membaca perkembangan pariwisata kawasan.
Dengan demikian, jumlah kunjungan berguna sebagai indikator arus wisatawan, tetapi bukan ukuran tunggal kesejahteraan warga. Kesimpulan tentang dampak ekonomi harus menghubungkan statistik pariwisata dengan data ekonomi resmi dan menjelaskan batas masing-masing angka.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Flores Raya
Pariwisata Flores: Seberapa Besar Pergerakan Wisatawan di NTT?
Data BPS menunjukkan perjalanan domestik menjadi penggerak utama pariwisata NTT pada Juli 2025, sementara Manggarai Barat mencatat tingkat penghunian…
Paling ramai di Analisis

Baca juga




