Bagaimana Mengukur Dampak Pariwisata Labuan Bajo bagi Ekonomi Lokal?
Jumlah kunjungan bukan satu-satunya ukuran dampak pariwisata Labuan Bajo. Data lama tinggal, pengeluaran, profil wisatawan, dan pelaku usaha diperlukan untuk membaca manfaat ekonomi bagi Manggarai Barat.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Pariwisata Labuan Bajo belum dapat dinilai hanya dari jumlah kunjungan. Ukuran yang lebih berguna mencakup siapa yang datang, berapa lama mereka tinggal, dan berapa besar pengeluaran mereka, karena tiga indikator itu dipakai untuk membaca dampak ekonomi pariwisata terhadap daerah dan masyarakat lokal.
Mengapa jumlah kunjungan saja tidak cukup?
Jumlah pengunjung menunjukkan skala aktivitas, tetapi tidak menjelaskan lama tinggal atau nilai belanja yang masuk ke ekonomi setempat. BPOLBF menyebut jumlah pengunjung, lama tinggal, dan pengeluaran wisatawan sebagai tiga indikator dasar untuk mengukur pertumbuhan ekonomi daerah dari sektor pariwisata, dalam publikasi bertanggal 2025-11-06.
Karena itu, kenaikan kunjungan tidak otomatis berarti manfaat tersebar merata. Pembacaan dampak memerlukan data yang menghubungkan arus wisatawan dengan usaha, tenaga kerja, dan transaksi di Kabupaten Manggarai Barat.
Berapa besar kunjungan yang tercatat?
Hingga Oktober 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo mencapai 434.799 kunjungan, menurut BPOLBF, 2025. Angka itu disampaikan dalam pembahasan penguatan keamanan dan kenyamanan wisata.
Dalam forum BPOLBF dan BPS RI, kunjungan wisatawan nusantara di Kabupaten Manggarai Barat pada Mei 2025 tercatat 58.278 kunjungan, menurut BPOLBF, 2025. Angka bulanan ini tidak dapat disamakan dengan angka kumulatif hingga Oktober karena cakupan waktunya berbeda.
Apakah data wisatawan sudah mengukur manfaat ekonomi lokal?
Belum sepenuhnya. Data kunjungan perlu dibaca bersama profil wisatawan, pola pemesanan, lama tinggal, dan pengeluaran agar pemerintah dapat menilai bagian ekonomi yang masuk ke pelaku lokal.
Survei Preferensi dan Profil Wisatawan Labuan Bajo 2025 dilakukan BPOLBF bersama BPS Kabupaten Manggarai Barat, Politeknik eLBajo Commodus, serta Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Manggarai Barat. Hasil yang dipublikasikan BPOLBF menunjukkan media sosial menjadi sumber informasi utama bagi 68,1% wisatawan nusantara dan 52,6% wisatawan mancanegara, menurut BPOLBF, 2025.
Apa arti perubahan pola pemesanan?
Pada 2025, sebanyak 53,1% wisatawan nusantara dalam survei tersebut melakukan pemesanan langsung, sedangkan 36,3% menggunakan Online Travel Agent, menurut BPOLBF, 2025. Data ini menggambarkan cara wisatawan bertransaksi, bukan nilai belanja atau besarnya pendapatan yang diterima masyarakat.
Untuk menilai pemerataan manfaat, data pariwisata perlu dipadankan dengan pencatatan pelaku usaha. BPOLBF menyebut Sensus Ekonomi 2026 akan mencakup seluruh pelaku usaha di berbagai sektor, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah, menurut BPOLBF, 2025.
Data apa yang paling penting dipantau?
- Jumlah kunjungan menurut asal wisatawan dan periode.
- Lama tinggal dan pengeluaran wisatawan.
- Perubahan jumlah serta kegiatan pelaku usaha lokal.
- Keterkaitan kunjungan dengan transaksi UMKM dan tenaga kerja.
Kerangka ini membuat penilaian pariwisata lebih dekat pada pertanyaan ekonomi yang dihadapi Manggarai Barat: bukan hanya berapa banyak wisatawan datang, melainkan berapa lama mereka tinggal, berapa banyak belanja yang tercatat, dan siapa yang menerima manfaatnya.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Flores Raya
24 Wartawan Terdampak Gempa di Flores Terima Bantuan Pangan
PWI NTT menyalurkan bantuan pangan bagi 24 wartawan terdampak gempa di tujuh kabupaten Flores. Distribusi dilakukan bertahap dari Labuan Bajo hingga M…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





